Sabtu, 22 Februari 2014

Rakyat harus segera berdaulat merubah ideologi negerinya.



Semoga tulisan Budaya daripada blog ini membuka pandangan semua, dari rekan2 .. Coba simak dengan tenang saat membacanya :

Pertama.




Indonesia terlanjur di duduki oleh kekuasaan yang bukan "muhrimnya" :




Sejak 1967 praktis Indonesia sudah dalam cengkraman Neokolim. Dlm konferensinya di Geneva di putuskan antara lain: Freeport dapat gunung eMas di Irian Barat, Consorsium Eropa dapat nikel di Irian Barat dan Alcoa dapat bauksit di Riau, Bangka Belitung. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, Perancis mendapat hutan tropis di Sumatra, Kalimantan, Irian Barat, dan lain lain.. Negara kapitalis, maaf, terlanjur, menguasai bumi Nusantara..

Penguasa negeri pun mengambil jalan pintas demi dapur dan rejeki anak keturunannya sendiri, berkolusi dengan memasukkan raksasa investasi swasta dunia kedalam negeri ini sejak era Presiden kedua, .. terakumulasi tanpa ada satu presiden pun sesudahnya mampu atau berani merevisinya, .. hingga terlanjur kuat lah si Raksasa di sini. Tentu tak mungkin lagi keterlanjuran itu di hapus atau dibatalkan, meskipun perlahan, karena para Raksasa punya surat kontrak kerjasama ekonomi yang sah di mata rantai kerajaan ekonomi dunia.




(Menyikapi keterlanjuran ini percuma saja jika kita generasi masa 2014, berkutat mencari siapa yang salah, siapa yang benar, sebab situasi tidak akan berubah dengan itu. Sebab terlanjur banyak kepentingan "demi kemenangan dapur sendiri" yang saling berkait, bergenerasi-generasi. Apa mau dikata lagi? Yang salah dan yang benar sekalipun, dalam bencana kemanusiaan yang menyeluruh ini, posisinya sama. Sama-sama tak mampu mengembalikan terapan azas dasar/ideologi negara secara jujur, konsekuen dan murni. Lantas kenapa kita saling 'berbunuhan baik secara image maupun fisik' satu sama lain saudara sebangsa? Korupsi bukan penyebab rakyat negeri ini terlantar, tetapi korupsi menyuburkan laju keuntungan korporasi swasta.)




Nah, kelakuan/budaya rata-rata yang juga sebagai "efek" dan terus terestafet itu, .. termasuk korupsi .. yang mau tak mau dari para orang pinter dan punya 'kuasa' di negeri ini menyadari juga realitas itu, .. untuk ikut menggoyang keadaan, .. demi rejeki dapur dan keturunan sendiri juga, .. walau itu berarti dengan apa yang mereka lakukan, sudah merusak harkat hidup rakyatnya secara langsung dan terestafet.




Merusak harkat hidup rakyat jadi penting harus dilakukan, .. agar rendah kualitas nalarnya (rakyat), rendah mutu hidupnya (rakyat), jika nanti berhadapan raksasa investasi swasta, mereka (rakyat) akan penuh suka cita karena dapat melekatkan harapan sejahteranya, .. walaupun itu berarti tereksploitasi..




Di atas adalah gambar simbiosis mutualistis dari kelakuan yang menjadikan serupa dan persis, antara penguasa dan rakyatnya, di negeri yang setiap pagi radio dan tv nya mengajak bersama bernyanyi lagu Indonesia Raya.




".... Hiduplaaah Indonesia Rayaaa .."




Kedua.




Tanpa 'keadilan' pada realitasnya (bertranformasi jadi Kapitalisme Pancasila) saya kira akan terus 'iklim penuh kesewenang-wenangan' serupa terus terakumulasi .. berdampak merusak banyak hal .. walau seribu kali berganti presiden, dengan manusia berhati setengah dewa pun .. Upaya-upaya yang ditempuh negara demi dapat terlihat memihak pada rakyatnya hanya bersifat seolah-olah saja (bantuan instan, dll). Mahalnya harga kebutuhan ditangan korporasi swasta justru memperberat posisi rakyat tanpa kekuasaan, yang telah terlanjur rusak paradigma nasionalismenya secara komunal, 'saling gigit', saling tipu, akibat terbangun dari iklim politik yang memakai logika ekonomi "segitiga terbalik" berpuluh tahun lalu.




Hati nurani dan Akal Budi = Azas Dasar Kerakyatan Pancasila ..

terinjak materi = Kapitalisme .. (tentu berjurus eksploitasi dan egoist)




Ketiga.

Mungkin sekarang ini lah Abad penggabungan keduanya

sebagai transformasi azas dasar negara/ ideologi yang baru,

Kapitalisme Pancasila= 3 pilar sinergi

yang harmonis,

antara Swasta, Rakyat, dan Negara,

sebagai upaya membela sejahtera dan harkat hidup Rakyat

seluruh Indonesia secara konsekuen dan murni..

serta sekaligus menjaga dan mempertahankan eksistensi Indonesia

di dalam Era Pasar Global dewasa ini,

dengan upaya pertamanya :




Dapat bersegera menjalankan sinergi 3 pilar tadi,

bersama mewujudkan Negeri yang berswasembada bahan pangan

dan alat industri terutama kendaraan rakyat,

memperbaiki atau meng up-grade mutu kualitas personality masing rakyatnya dengan mutu kurikulum pendidikan setara dengan negara maju.. dst.

Jika berjalan,

sekian persen ekonomi negeri kita sudah dapat bangkit dalam 'satu kesatuan', sedikit jelas hutang negara pada IMF dapat kita lunasi dengan swasembada.. dst.

Salam Penuh Cinta,




Ayo gerilya menularkan Nalar ini ke seantero pelosok negeri

sebagai upaya nyata bergerak

berjuang bagi Harkat meningkat seluruh Rakyat Indonesia seanak cucu keturunan dimasa depan.

Tanpa membedakan apa agamanya, apa sukunya, apa bahasanya, apa profesinya, kita dapat bersatu daulat, semoga harapan itu terwujud kini, sejak era patih Gajah Mada dengan sumpah Palapanya ..




Semoga negara ini sudi meng-upgrade harkat rakyatnya.




Tabik !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar