Sabtu, 22 Februari 2014

Menyikapi fakta yang TERLANJUR.

Keterlanjuran realitas : Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk dan dimana-mana kuat menjamur mendominasi (pasti berirama industri kapitalisme) tersengaja mengelola semua sektor kebutuhan rakyat negeri ini yang berazas dasar negara Kerakyatan.





Tentu menjembatani perbedaan kedua sistem itu mau tak mau penguasa negeri ini cuma improvisasi saja, cuma seolah-olah saja. (misal Bantuan Tunai, dana Bos, semua hanya bersifat instan) Tak ada yang mampu menolong. Karena professor dan bayi sama saja. Superman apa lagi. Kecuali rakyat bersatu padu menyadari realitas di tanah negerinya dan bersama mengkritik dan bertanya dengan lembut pada penguasa negeri ini utk mau membela harkat rakyat sebagai sebuah negara yg ideologinya mau tak mau pula harus bertransformasi jadi Kapitalisme Pancasila, "mengapa realitas dilapangan sangat bertolak belakang justru dengan ideologi negeri ini?"




Sebab jika tidak, penguasa negara yang terlanjur berkolusi dengan korporasi raksasa swasta itu, bermain monopoli kapitalisme di atas semua kebutuhan rakyat, jelas akan mencipta rakyat kualitas 'daerah pendudukan/ yang terduduki pihak Asing'. Harkat rakyat tercipta mau tak mau berkualitas pelayan/bernalar rendah tanpa daya menyangkut realitas negerinya, yang kabarnya berazas dasar Kerakyatan berpuluh tahun, hingga tersengaja terbentuk rata-rata : penuh romantisme religius, cara berpikirnya tradisionil dan dangkal, selalu perlu tokoh panutan atau sosok sebagai "penggembala bebek/penggembala sapi perah", dan penyuka tontonan komedi, hahahaha sehari hari.. ( ah, biarkan saja mereka mentertawakan dirinya sendiri sebagai penghiburan atas realitasnya. Sungguh jadi lucu, kata orang kaya dan berpangkat suatu hari.)




Apa mau di kata, anak orang kaya dan berpangkat itu, bersama teman-temannya, suatu hari pula, bersama dalam satu sedan pulang sekolah, disopiri oleh seorang yg sok latah, atau latah beneran, tertawa tawa sekejab jadi duka akibat menggoda tiba-tiba mengagetkan si sopir yang latah tadi, si sopir menginjak pedal gas, mobil melaju menabrak sebuah truk tangki bahan bakar yang kran nya tidak tertutup dengan rapat, meledak dan terbakar, anak2 dan sopir dalam satu sedan, jadi satu berita duka, yang sebentar kemudian terlupakan lenyap tertelan hingar-bingarnya kehidupan ..










Tapi tragis buat semua rakyat tanpa kekuasaan hari ini dan,

buat anak cucu keturunan di esok hari ..

tentu akan jadi masyarakat yang kehilangan hak atas negerinya sendiri,

Karena swasta serba serba swasta, menguasai segala,

masyarakat aseli tanpa kekuasaan dan kekayaan akan jadi

masyarakat terkucil dan tersingkir..

Ah, contoh masyarakat negara seperti itu sudah pernah ada

di muka bumi ini !

TAK USAH TERULANG.


Satyawira Wicaksana.

Feb 2014.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar