Jumat, 21 Februari 2014

"jatuh berulang kali ditempat yang sama? tentu saja jadi bahan tawa"



Ada kawan mengirim telegram via inbox FB saya.
Begini bunyinya : (semoga pula menggugah perasaan kemanusiaan mu, sahabat)

Detik ini. Saat semua kebutuhan rakyat sudah tersengaja terkelola oleh korporasi swasta, otomatis berarti negeri ini bukan lagi berazas dasar Kerakyatan Pancasila.

Kalau rakyat masih beranggapan begitu, tentu saja tereksploitasi dalam kenyataannya. Sengaja pula perhatian rakyat di giring pada kasus2 Koruptor seolah penyebab aneka derita tragedi kemanusiaan di negeri ini tersebab oleh mereka.

Padahal cuma karena sang koruptor lebih dulu tahu bahwa telah terjadi penyimpangan dari ideologi negara maka otomatis mereka ikut survive mencontoh pihak yang kuat, cari titik lemahnya keadaan. Agar dapat juga jadi Swasta, demi dapur sendiri dan anak cucu keturunan di masa depan. Jadi LUCU kenyataannya seperti mayoritas selera rakyat pada tayangan televisinya, rakyat yg marah menuntut koruptor di hukum mati. Padahal rakyat terbengkalai dan koruptor2 muncul dari satu sebab yang sama : Raksasa Investasi Dunia yg dipersilakan masuk ke dalam Ind. yang berazas dasar negara Kerakyatan.




Nah ! Apa mau dikata,
saat kini para 'Spekulan giat menggalang suara rakyat terpesona'
demi kemenangan dapur sendiri
agar realitas iklim politik negeri ini
tetap seperti sekarang dan terestafet
ke era berikutnya,
ramai-ramai lah mereka
menunggangi sosok baik sdr. JOKOWI,
yang berarti tak ubahnya sekarang, detik ini,
menunggangi sisi romantisme Lambang Garuda Pancasila,
cita-cita luhur pada seluruh rakyat Indonesia..
walau kenyataan semua kebutuhan rakyat,
di semua sektornya, telah tersengaja
terkelola oleh korporasi raksasa investasi swasta.

Apa mau di kata,
jika nalar semua rakyat negeri ini rata-rata
dapat jatuh di lubang yang sama
justru berulang kali ..

Sebagai masyarakat yang menjunjung Apresiasi Budaya di Negeri ini,
pantaskah kita pura buta, pura tuli atas realitas ini, sahabat?

Ah, satu lagi,
Fenomena SADAP secara tersembunyi sudah mengabarkan pada semua khalayak negeri ini, bahwa logika sadap menyadap, terlebih hanya audio,
lebih menekankan pada Nalar
dalam membaca hasil sadap.

*Lebih lengkap di http://matkasdut.blogspot.com/2014/02/rectoverso-indonesia.html

Satyawira Wicaksana.
Feb2014.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar